Kalau kembali ke lapangan jadi ingat kejadian dua tahun lalu yang memalukan sekaligus menggelikan kalau mengingatnya. Suatu siang di 2006, kami sedang dalam perjalanan menuju Bela untuk memperbaiki AC ambulans yang kurang dingin.
Di tengah perjalanan di daerah Kemayoran ada kecelakaan lalulintas. Kami pun menghentikan ambulans dan segera memberi pertolongan. Rupanya, salah satu korban mengalami luka cukup parah sehingga perlu segera di bawa ke rumahsakit.
Tapi, di tengah perjalanan menuju rumahsakit terdekat, mendadak kepala saya puyeng tujuh keliling dan perut mual. Memang, hari itu saya memaksakan diri untuk masuk lantaran badan sedang tidak dalam kondisi prima.
Sambil terus memberikan pertolangan pertama kepada korban, saya melawan rasa sakit itu terutama mual. Namun, pertahanan saya jebol juga. Saya sudah tidak kuat lagi dan minta teman untuk menghentikan laju ambulans.
Sontak saya langsung keluar dan hueks, isi perut pun keluar berhamburan. Dengan muka merah menahan malu sekaligus sakit saya kemudian minta maaf kepada korban kecelakaan lantaran sejatinya saya sedang tidak enak badan. Untungnya, dia mau mengerti.
Memalukan dan menggelikan kalau mengingatnya. He…he…he…
sore di kunciran
27 Januari 2009
23 Januari 2009
BACK TO LAPANGAN
Setelah empat bulan mendekam di Bela, sejak awal Januari lalu akhirnya saya kembali bertugas di lapangan. Ambulans menjadi rumah kedua saya. Tempat berlindung di saat panas terik dan hujan badai. Juga, tempat tidur saat kantuk menyergap terutama saat dinas malam.
Maklum, kami tak punya kantor cabang selain Bela. Jadilah kami menumpang, entah itu di pos polisi, kantor pemadam kebakaran, rumahsakit, atau kantor wali kota. Ada yang berbaik hati memberikan ruangan, seperti Rumahsakit Harapan Bunda dan PT Jalan Lingkarluar Jakarta.
Ada juga yang sekadar memberikan lahan parkirnya buat ambulans kami. Tapi, bagi kami itu sudah lebih dari cukup. Yang penting kami juga boleh menumpang ke kamar mandi saat panggilan alam datang.
Cuma, ada juga lo yang setengah hati memberikan kami tempat alias tidak ikhlas. Ya, begitulah nasib hidup menumpang tak punya kantor kecuali Bela seorang.
Tapi, sebagian di antara kami yang mendapat jodoh dari hidup menumpang dan berpindah-pindah tersebut . Kebanyakan sih dengan petugas pemadam kebakaran.
Saya masih betugas di wilayah selatan Jakarta yang punya lima pos: kolam renang Senayan, pos polisi Pancoran, kantor Wali Kota Jakarta Selatan, kantor Pemadam kebakaran Lebak Bulus, dan kantor PT Jalan Lingkarluar Jakarta.
tengah malam di kunciran
Maklum, kami tak punya kantor cabang selain Bela. Jadilah kami menumpang, entah itu di pos polisi, kantor pemadam kebakaran, rumahsakit, atau kantor wali kota. Ada yang berbaik hati memberikan ruangan, seperti Rumahsakit Harapan Bunda dan PT Jalan Lingkarluar Jakarta.
Ada juga yang sekadar memberikan lahan parkirnya buat ambulans kami. Tapi, bagi kami itu sudah lebih dari cukup. Yang penting kami juga boleh menumpang ke kamar mandi saat panggilan alam datang.
Cuma, ada juga lo yang setengah hati memberikan kami tempat alias tidak ikhlas. Ya, begitulah nasib hidup menumpang tak punya kantor kecuali Bela seorang.
Tapi, sebagian di antara kami yang mendapat jodoh dari hidup menumpang dan berpindah-pindah tersebut . Kebanyakan sih dengan petugas pemadam kebakaran.
Saya masih betugas di wilayah selatan Jakarta yang punya lima pos: kolam renang Senayan, pos polisi Pancoran, kantor Wali Kota Jakarta Selatan, kantor Pemadam kebakaran Lebak Bulus, dan kantor PT Jalan Lingkarluar Jakarta.
tengah malam di kunciran
15 Januari 2009
TELEPON NYASAR
Selain telepon iseng, banyak juga, lo, telepon nyasar yang masuk ke operator AGD. Tak jarang suara di seberang sana mengira kami adalah kantor pemadam kebakaran. Mereka minta kami segera mengirim mobil blamwier karena di daerahnya terjadi kebakaran.
Tapi, kami tetap merespon telepon tersebut setelah memberi penjelasan kalau nomor yang mereka hubungi bukan kantor pemadam kebakaran. Kami akan mencatat lokasi terjadinya kebakaran. Kemudian, kami akan mengontak kantor pemadam kebakaran.
Lalu, banyak juga yang mengira kami juga melayani ambulans jenazah. Sering sekali telepon beginian masuk. Tapi, lagi-lagi kami merespon telepon itu, tentunya, setelah memberi penjelasan kami cuma melayani pasien hidup saja.
Kebetulan kami memang sudah mengantisipasi untuk menghadapi telepon yang butuh ambulans jenazah. Sejumlah nomor perusahaan yang menyediakan layanan ini sudah kami pegang. Jadi, kami tinggal memberitahu ke yang membutuhkan saja.
malam di kunciran
Tapi, kami tetap merespon telepon tersebut setelah memberi penjelasan kalau nomor yang mereka hubungi bukan kantor pemadam kebakaran. Kami akan mencatat lokasi terjadinya kebakaran. Kemudian, kami akan mengontak kantor pemadam kebakaran.
Lalu, banyak juga yang mengira kami juga melayani ambulans jenazah. Sering sekali telepon beginian masuk. Tapi, lagi-lagi kami merespon telepon itu, tentunya, setelah memberi penjelasan kami cuma melayani pasien hidup saja.
Kebetulan kami memang sudah mengantisipasi untuk menghadapi telepon yang butuh ambulans jenazah. Sejumlah nomor perusahaan yang menyediakan layanan ini sudah kami pegang. Jadi, kami tinggal memberitahu ke yang membutuhkan saja.
malam di kunciran
02 Januari 2009
WAJAH RUMAHSAKIT
Ini salah satu kisah yang bikin saya mengelus dada sewaktu bertugas sebagai operator AGD. Desember lalu, suara telepon di seberang meminta satu unit ambulans untuk membawa anggota keluarganya yang sakit ke sebuah rumahsakit di daerah Jakarta Barat. Kami pun segera meluncurkan ambulans ke sana.
Saya pun mengontak rumahsakit tersebut lantaran pihak keluarga menginginkan anggota keluarganya yang sakit itu dirawat di sana. Tujuannya, memberitahu pihak rumahsakit bahwa akan ada pasien yang mengarah ke rumah sakit tersebut yang dibawa ambulans kami.
Apa lacur, jawaban seorang wanita di ujung telepon ini sangat ketus. Sambil setengah berteriak, dia bilang, sudah tidak ada kamar lagi. Perempuan itu meminta kami untuk membawa pasien itu ke rumahsakit lain saja.
Saya dan semua operator di AGD sudah biasa mendapat semprotan semacam itu. Maklum, kami sering membawa pasien Gakin alias keluarga miskin. Makanya, banyak rumahsakit yang menolak dengan alasan kamar sudah penuh.
Mungkin staf rumahsakit tersebut mengira kami membawa pasien Gakin. Tapi, saya tidak bisa memenuhi permintaan rumahsakit itu karena keluarga pasien ingin anggota keluarganya yang sakit dirawat di sana.
Cerita teman yang bertugas membawa pasien tersebut, perawat jaga di Instalasi Gawat Darurat rumahsakit itu langsung pasang muka asem begitu ambulans tiba. Tapi, begitu tahu kalau pihak keluarga ingin agar anggota keluarganya yang sakit itu dirawat di kamar VIP baru mereka pasang muka manis.
Ya, beginilah salah satu wajah rumahsakit di Indonesia. Hanya bersahabat bagi kalangan yang berduit saja.
sore di kunciran
Saya pun mengontak rumahsakit tersebut lantaran pihak keluarga menginginkan anggota keluarganya yang sakit itu dirawat di sana. Tujuannya, memberitahu pihak rumahsakit bahwa akan ada pasien yang mengarah ke rumah sakit tersebut yang dibawa ambulans kami.
Apa lacur, jawaban seorang wanita di ujung telepon ini sangat ketus. Sambil setengah berteriak, dia bilang, sudah tidak ada kamar lagi. Perempuan itu meminta kami untuk membawa pasien itu ke rumahsakit lain saja.
Saya dan semua operator di AGD sudah biasa mendapat semprotan semacam itu. Maklum, kami sering membawa pasien Gakin alias keluarga miskin. Makanya, banyak rumahsakit yang menolak dengan alasan kamar sudah penuh.
Mungkin staf rumahsakit tersebut mengira kami membawa pasien Gakin. Tapi, saya tidak bisa memenuhi permintaan rumahsakit itu karena keluarga pasien ingin anggota keluarganya yang sakit dirawat di sana.
Cerita teman yang bertugas membawa pasien tersebut, perawat jaga di Instalasi Gawat Darurat rumahsakit itu langsung pasang muka asem begitu ambulans tiba. Tapi, begitu tahu kalau pihak keluarga ingin agar anggota keluarganya yang sakit itu dirawat di kamar VIP baru mereka pasang muka manis.
Ya, beginilah salah satu wajah rumahsakit di Indonesia. Hanya bersahabat bagi kalangan yang berduit saja.
sore di kunciran
11 Desember 2008
PANGGILAN PALSU
Pekerjaan yang paling menyebalkan sewaktu duduk di kursi operator adalah menerima telepon dari orang iseng. Biasanya, telepon yang beginian datangnya lepas tengah malam. Tak cuma jadi monopoli orang dewasa saja, sesekali suara telepon iseng di ujung sana juga berasal dari anak-anak.
Hanya, pernah ada telepon masuk yang ujung-ujungnya menipu kami mentah-mentah. Suatu siang di bulan November 2008, ada telepon datang dari seseorang yang mengaku staf klinik di bilangan Depok. Dia bilang ingin memindahkan perawatan anggota keluarganya dari klinik tersebut ke sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat.
Seperti biasa, sebelum meluncurkan unit ke sana kami mencari letak pasti klinik itu lewat peta elektronik. Tujuannya, untuk memudahkan unit mencapai titik sasaran. Kami juga mengontak rumah sakit tersebut untuk memastikan pasien sudah mendapat ruangan di sana.
Tapi, anehnya alamat klinik itu tidak terdapat di peta. Tapi, yang buat kami yakin mengirim unit ke sana lantaran rumah sakit membenarkan staf klinik itu sudah memesan kamar buat anggota keluarganya. Lagian, kami pikir mungkin peta belum meng-update keberadaan klinik tersebut.
Jadilah, ambulans kami yang sehari-hari nge-pos di kawasan Jakarta Selatan meluncur ke sana. Dan, betul saja yang kami khawatirkan terjadi. Ternyata klinik itu fiktif. Unit kami sudah mengubek-ubek alamat tersebut selama satu jam dan tanya-tanya ke warga sekitar tapi tidak ketemu juga.
Karuan saja saya dibuat gondok. Maklum, saya adalah penanggung jawab untuk regu operator yang dinas hari itu. Buruan saja saya kontak nomor telepon orang itu. Tapi ternyata, tidak nyambung-nyambung. Rupanya, lagi-lagi dia memberikan nomor palsu. Gila benar! Orang itu benar-benar niat dan mempersiapkan scenario untuk mengerjai kami.
Saya tidak habis pikir dengan orang iseng tersebut. Andai saja siang itu ada panggilan gawat darurat dan unit yang tersisa adalah ambulans yang menuju klinik fiktif itu. Bagaimana? Sebab, bisa saja nyawa orang lain melayang gara-gara kami ditipu mentah-mentah.
siang di kunciran
Hanya, pernah ada telepon masuk yang ujung-ujungnya menipu kami mentah-mentah. Suatu siang di bulan November 2008, ada telepon datang dari seseorang yang mengaku staf klinik di bilangan Depok. Dia bilang ingin memindahkan perawatan anggota keluarganya dari klinik tersebut ke sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat.
Seperti biasa, sebelum meluncurkan unit ke sana kami mencari letak pasti klinik itu lewat peta elektronik. Tujuannya, untuk memudahkan unit mencapai titik sasaran. Kami juga mengontak rumah sakit tersebut untuk memastikan pasien sudah mendapat ruangan di sana.
Tapi, anehnya alamat klinik itu tidak terdapat di peta. Tapi, yang buat kami yakin mengirim unit ke sana lantaran rumah sakit membenarkan staf klinik itu sudah memesan kamar buat anggota keluarganya. Lagian, kami pikir mungkin peta belum meng-update keberadaan klinik tersebut.
Jadilah, ambulans kami yang sehari-hari nge-pos di kawasan Jakarta Selatan meluncur ke sana. Dan, betul saja yang kami khawatirkan terjadi. Ternyata klinik itu fiktif. Unit kami sudah mengubek-ubek alamat tersebut selama satu jam dan tanya-tanya ke warga sekitar tapi tidak ketemu juga.
Karuan saja saya dibuat gondok. Maklum, saya adalah penanggung jawab untuk regu operator yang dinas hari itu. Buruan saja saya kontak nomor telepon orang itu. Tapi ternyata, tidak nyambung-nyambung. Rupanya, lagi-lagi dia memberikan nomor palsu. Gila benar! Orang itu benar-benar niat dan mempersiapkan scenario untuk mengerjai kami.
Saya tidak habis pikir dengan orang iseng tersebut. Andai saja siang itu ada panggilan gawat darurat dan unit yang tersisa adalah ambulans yang menuju klinik fiktif itu. Bagaimana? Sebab, bisa saja nyawa orang lain melayang gara-gara kami ditipu mentah-mentah.
siang di kunciran
08 Desember 2008
OPERATOR AGD DKI

Sudah tiga bulan ini saya duduk di kursi operator. Istilahnya, naik ke Bela. Tugasnya, menerima telepon yang masuk dan menjawab suara di ujung telepon sana yang membutuhkan unit Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta (AGD DKI).
Ya, semua paramedis di AGD mendapat giliran bertugas sebagai operator. Biasanya, sekitar tiga bulan. Tugas ini memang harus dilakoni paramedis. Sebab, kami tidak sekadar menerima telepon dan meneruskannya ke unit-unit ambulans yang sedang berjaga.
Operator juga memberikan panduan-panduan. Semisal, kalau ada panggilan darurat kecelakaan lalu lintas dengan korban parah. Kami akan memberikan meminta penelpon untuk tidak memindahkan korban sampai ambulan tiba di lokasi.
Soalnya, kalau ternyata korban mengalami patah leher, upaya pemindahan yang tidak benar bisa menyebabkan kematian. Itu sebabnya, tugas operator mesti dijalani seorang paramedis yang juga akan memandu penelpon melakukan pertolangan pertama kepada korban.
Operator AGD DKI siaga 24 jam penuh. Tinggal tekan 118 saja. Nomor ini bisa diakses gratis, baik melalui telepon rumah maupun genggam yang memakai kartu keluaran Telkomsel. Atau, kami bisa dihubungi di nomor: 021-65303118.
AGD DKI Selamat Pagi, Siang dan Malam...
malam di kunciran
Ya, semua paramedis di AGD mendapat giliran bertugas sebagai operator. Biasanya, sekitar tiga bulan. Tugas ini memang harus dilakoni paramedis. Sebab, kami tidak sekadar menerima telepon dan meneruskannya ke unit-unit ambulans yang sedang berjaga.
Operator juga memberikan panduan-panduan. Semisal, kalau ada panggilan darurat kecelakaan lalu lintas dengan korban parah. Kami akan memberikan meminta penelpon untuk tidak memindahkan korban sampai ambulan tiba di lokasi.
Soalnya, kalau ternyata korban mengalami patah leher, upaya pemindahan yang tidak benar bisa menyebabkan kematian. Itu sebabnya, tugas operator mesti dijalani seorang paramedis yang juga akan memandu penelpon melakukan pertolangan pertama kepada korban.
Operator AGD DKI siaga 24 jam penuh. Tinggal tekan 118 saja. Nomor ini bisa diakses gratis, baik melalui telepon rumah maupun genggam yang memakai kartu keluaran Telkomsel. Atau, kami bisa dihubungi di nomor: 021-65303118.
AGD DKI Selamat Pagi, Siang dan Malam...
malam di kunciran
04 Desember 2008
CINTA PROFESI
Ini salah satu kisah pahit yang pernah saya bersama sekitar 300 rekan kerja lainnya sewaktu menjadi paramedis Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Kami pernah sempat tidak mendapat gaji selama enam bulan berturut-turut, sepanjang Januari sampai Juni di 2007 dan 2008.
Kejadian tahun lalu kami sangat mafhum. Ketika itu kami sedang masa transisi setelah lepas dari Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118. Hebatnya, selama enam bulan itu kami tidak memiliki pemimpin lantaran Dinas Kesehatan belum betul-betul mengambil alih pengelolaan Ambulans Gawat Darurat. Tapi, operasional tetap jalan seperti biasa.
Sedang yang tahun ini, awalnya kami maklum alasan penundaan pembayaran gaji karena anggaran yang belum turun dari Pemerintah DKI. Kejadian yang sama juga dialami pegawai harian lepas dan kontrak di dinas-dinas lainnya seperti Dinas Pemadam Kebakaran. Biasanya, bulan ketiga akan menerima rapelan dari Januari.
Tapi ternyata, bulan ketiga, keempat, kelima dan keenam lewat, rapelan yang dijanjikan tak kunjung datang. Harapan itu datang setelah Liputan Enam Siang SCTV memuat wawancara salah satu rekan kami yang menyatakan paramedis Ambulans Gawat Darurat DKI Jakarta belum menerima gaji selama enam bulan. Dan, benar saja gaji pun turun.
Meski gaji selalu datang terlambat, tak banyak dari kami yang mundur dari Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI. Paling hanya segelintir orang saja. Bahkan, ada yang menolak tawaran gaji tiga sampai empat kali lipat asal mau bekerja di tempat lain. Mungkin, kami sudah terlalu cinta dengan profesi ini.
malam di kunciran
Kejadian tahun lalu kami sangat mafhum. Ketika itu kami sedang masa transisi setelah lepas dari Yayasan Ambulans Gawat Darurat 118. Hebatnya, selama enam bulan itu kami tidak memiliki pemimpin lantaran Dinas Kesehatan belum betul-betul mengambil alih pengelolaan Ambulans Gawat Darurat. Tapi, operasional tetap jalan seperti biasa.
Sedang yang tahun ini, awalnya kami maklum alasan penundaan pembayaran gaji karena anggaran yang belum turun dari Pemerintah DKI. Kejadian yang sama juga dialami pegawai harian lepas dan kontrak di dinas-dinas lainnya seperti Dinas Pemadam Kebakaran. Biasanya, bulan ketiga akan menerima rapelan dari Januari.
Tapi ternyata, bulan ketiga, keempat, kelima dan keenam lewat, rapelan yang dijanjikan tak kunjung datang. Harapan itu datang setelah Liputan Enam Siang SCTV memuat wawancara salah satu rekan kami yang menyatakan paramedis Ambulans Gawat Darurat DKI Jakarta belum menerima gaji selama enam bulan. Dan, benar saja gaji pun turun.
Meski gaji selalu datang terlambat, tak banyak dari kami yang mundur dari Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI. Paling hanya segelintir orang saja. Bahkan, ada yang menolak tawaran gaji tiga sampai empat kali lipat asal mau bekerja di tempat lain. Mungkin, kami sudah terlalu cinta dengan profesi ini.
malam di kunciran
Langganan:
Postingan (Atom)
