Tugas sebagai paramedis tak selalu harus dilakoni saat jam kerja saja. Kami juga mesti siap merelakan hari libur begitu panggilan darurat datang. Contoh, waktu bencana tsunami menyapu Aceh dan gempa bumi meluluh-lantakkan Jogjakarta.
Itu juga yang terjadi pada saya sewaktu dua kereta listrik bertabrakan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, 30 Juni 2005 lalu. Banyaknya jumlah korban luka yang masuk ke Unit Gawat Darurat membuat Rumahsakit Pasar Rebo kewalahan.
BELA meminta saya meluncur segera ke Rumahsakit Pasar Rebo untuk membantu menangani para korban. Kebetulan kos saya letaknya di belakang rumah sakit milik Pemerintah DKI Jakarta ini. Sebagian rekan yang semestinya bertugas membawa korban luka dari lokasi kejadian ke rumahsakit juga diminta tetap bertahan di Rumahsakit Pasar Rebo untuk membantu penanganan korban.
Cuma, tidak selamanya panggilan darurat yang datang untuk merampas hari libur kami, lo. Justru lebih banyak yang bikin kami happy. Menjaga konser penyanyi ternama asal luar negeri, misalnya. Sudah nonton pertunjukan gratis, dapat uang lelah lagi.
Tapi intinya, kami mesti siap menjalani perintah yang datang, apapun jenis panggilan yang datang, meski merenggut hari libur. Terutama panggilan darurat. Mayday... mayday... mayday
malam di kunciran
19 September 2008
05 September 2008
WAJAH JAKARTA
Tak melulu panggilan darurat yang datang. Contohnya, suatu siang di 2006. Ketika itu saya sedang berjaga di Pos Polisi Lalu Lintas Pancoran. Perintah dari BELA, kami mesti segera meluncur ke daerah di Jakarta Selatan untuk membawa pasien yang sedang menderita penyakit gula ke rumah sakit. Tapi, orang ini tidak butuh penanganan segera.
Toh, bukan berarti kami menjalani tugas ini dengan santai. Buktinya, saya minta tolong teman yang waktu itu bertugas membawa ambulans motor dan kebetulan sedang ngepos bareng kami di Pancoran. Tujuannya, untuk membantu membuka jalan lantaran jalanan di Jakarta siang itu padat merayap.
Tidak lama kemudian, kami tiba di lokasi. Apa lacur, pemandangan yang memilukan ada di depan mata. Seorang bapak tergolek lemah di kamarnya dengan luka membusuk akibat penyakit gula. Bau pesing juga menyeruak di sana. Tampaknya, keluarga tidak terlalu merawat bapak itu.
Sikap tidak peduli keluarga si bapak juga kelihatan waktu kami berusaha memindahkannya ke tempat tidur dorong. Tidak ada satu pun yang membantu. Soal tidak ada yang membantu kami sih sudah terbiasa. Tapi, yang bikin saya miris, mereka hanya melihat dari kejahuan. Mendekat ke pintu pun tidak.
Tak mau ambil pusing, kami pun segera membawa bapak itu ke dalam ambulans. Sejurus kemudian, kami tancap gas menuju rumah sakit, tetap dengan kawalan motor ambulans. Wuss….. Berharap salah satu wajah Jakarta ini tidak lagi saya jumpai dalam tugas-tugas mendatang.
malam di kunciran
Toh, bukan berarti kami menjalani tugas ini dengan santai. Buktinya, saya minta tolong teman yang waktu itu bertugas membawa ambulans motor dan kebetulan sedang ngepos bareng kami di Pancoran. Tujuannya, untuk membantu membuka jalan lantaran jalanan di Jakarta siang itu padat merayap.
Tidak lama kemudian, kami tiba di lokasi. Apa lacur, pemandangan yang memilukan ada di depan mata. Seorang bapak tergolek lemah di kamarnya dengan luka membusuk akibat penyakit gula. Bau pesing juga menyeruak di sana. Tampaknya, keluarga tidak terlalu merawat bapak itu.
Sikap tidak peduli keluarga si bapak juga kelihatan waktu kami berusaha memindahkannya ke tempat tidur dorong. Tidak ada satu pun yang membantu. Soal tidak ada yang membantu kami sih sudah terbiasa. Tapi, yang bikin saya miris, mereka hanya melihat dari kejahuan. Mendekat ke pintu pun tidak.
Tak mau ambil pusing, kami pun segera membawa bapak itu ke dalam ambulans. Sejurus kemudian, kami tancap gas menuju rumah sakit, tetap dengan kawalan motor ambulans. Wuss….. Berharap salah satu wajah Jakarta ini tidak lagi saya jumpai dalam tugas-tugas mendatang.
malam di kunciran
01 September 2008
KERINGAT JAGUNG
Hari-hari awal bekerja sebagai kru Ambulans 118 cuma diisi kegiatan ngobrol, makan dan tidur di pos. Soalnya, tak ada satu pun panggilan yang mampir dari BELA. Maklum, belum banyak warga Jakarta yang tahu keberadaan kami, meski sering wara-wiri di jalan-jalan ibukota. Ini buntut minimnya sosialisasi, baik itu dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta sebagai pemilik, dan Yayasan Ambulans Gawat darurat 118 sebagai pengelola.
Sampai kemudian, di suatu siang, telepon genggam saya menyalak dengan nyaring sehingga membuyarkan lamunan. Nomor yang tertera: BELA. Suara di ujung telepon memberi perintah yang isinya, kami harus segera meluncur ke daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sebab, ada korban yang terjatuh dari atap rumah yang butuh pertolongan cepat. Istilahnya, on call, kalau kami mendapat panggilan gawat darurat semacam ini.
Karuan saja, kami langsung tancap gas ke lokasi. Sirene mobil kami bikin meraung-raung supaya kendaraan yang ada di depan kami minggir untuk sesaat. Untung saja, jalanan ibukota tak terlalu macet sehingga kami sampai di lokasi dengan cepat. Korban yang bekerja sebagai tukang bangunan ketika itu sudah tergolek lemah dengan kondisi kaki patah. Setelah melakukan pertolongan pertama, kami langsung membawanya ke ambulans.
Belum juga mesin mobil dihidupkan, kerabat korban meminta kami mengarahkan ambulans ke dukun patah tulang yang juga masih berada di bilangan Jakarta Selatan, bukan ke rumah sakit. Apesnya, jalan menuju ke sana padat merayap. Sampai-sampai tak ada ruang untuk menyalip kendaraan di depan yang mengular panjang. Sirene yang menjerit keras tidak membantu sama sekali.
Keringat segede biji jagung pun mengucur deras. Rasa panik menyergap. Maklum, ini pengalaman pertama membawa pasien dan langsung yang kondisinya gawat. Untungnya, ada motor patroli polisi lewat. Bapak polisi yang baik itu membantu kami menembus kemacetan siang itu. Mobil-mobil yang tadinya enggan sedikit menyingkir, akhirnya memberi ruang buat kami. Ambulans pun meluncur dengan mulus.
malam di kunciran
Sampai kemudian, di suatu siang, telepon genggam saya menyalak dengan nyaring sehingga membuyarkan lamunan. Nomor yang tertera: BELA. Suara di ujung telepon memberi perintah yang isinya, kami harus segera meluncur ke daerah Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Sebab, ada korban yang terjatuh dari atap rumah yang butuh pertolongan cepat. Istilahnya, on call, kalau kami mendapat panggilan gawat darurat semacam ini.
Karuan saja, kami langsung tancap gas ke lokasi. Sirene mobil kami bikin meraung-raung supaya kendaraan yang ada di depan kami minggir untuk sesaat. Untung saja, jalanan ibukota tak terlalu macet sehingga kami sampai di lokasi dengan cepat. Korban yang bekerja sebagai tukang bangunan ketika itu sudah tergolek lemah dengan kondisi kaki patah. Setelah melakukan pertolongan pertama, kami langsung membawanya ke ambulans.
Belum juga mesin mobil dihidupkan, kerabat korban meminta kami mengarahkan ambulans ke dukun patah tulang yang juga masih berada di bilangan Jakarta Selatan, bukan ke rumah sakit. Apesnya, jalan menuju ke sana padat merayap. Sampai-sampai tak ada ruang untuk menyalip kendaraan di depan yang mengular panjang. Sirene yang menjerit keras tidak membantu sama sekali.
Keringat segede biji jagung pun mengucur deras. Rasa panik menyergap. Maklum, ini pengalaman pertama membawa pasien dan langsung yang kondisinya gawat. Untungnya, ada motor patroli polisi lewat. Bapak polisi yang baik itu membantu kami menembus kemacetan siang itu. Mobil-mobil yang tadinya enggan sedikit menyingkir, akhirnya memberi ruang buat kami. Ambulans pun meluncur dengan mulus.
malam di kunciran
11 Juli 2008
PENDIDIKAN DASAR
Setelah melewati serangkaian tes termasuk ujian mengemudi di simulator milik Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri, akhirnya, pada Oktober 2004 saya bergabung dengan Ambulans Gawat Darurat 118—sekarang Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Tapi, belum resmi lantaran masih ada satu ujian lagi yang mesti dilewati: Pendidikan Dasar.
Dikdas-- begitu Pendidikan Dasar populer disebut--merupakan tahapan ujian untuk mendapatkan brevet paramedis. Awalnya, saya mesti mengikuti kelas pengenalan Ambulans 118 dan kegawat daruratan selama sepekan lebih di kantor Ambulans 118 yang terletak di kawasan Sunter Jakarta Pusat--kami menyebutnya BELA.
Setelah itu, Dikdas lanjutan digelar di kaki bukit Gunung Salak selama tiga hari. Ini mirip perpeloncoan sewaktu masa kuliah di Akademi Keperawatan dulu. Habis, ada acara marah-marahan segala, selain tentunya hukuman fisik. Tapi, tujuan utamanya adalah menggembleng mental dan fisik kami. Sebab nantinya, kami tidak hanya bertugas di seputaran Jakarta saja. Kami juga harus siap dikirim ke daerah lain sewaktu bencana meluluh-lantakkan wilayah tersebut.
Dan, terbukti sewaktu tsunami melumat Aceh dan gempa bumi memporak-podandakan Jogjakarta, Ambulans 118 mengirim paramedis ke lokasi bencana. Itu sebabnya, ketika Dikdas di kawasan Bogor tersebut ada acara mengevakuasi korban yang jatuh ke jurang.
Saya pun lolos dari tahapan akhir ini dan berhak menyandang gelar paramedis. Dikdas menjadi modal awal saya mengemban tugas sebagai kru Ambulans 118. Saya resmi mulai melakoni profesi ini menjelang tutup tahun 2004. Dan, bertugas di wilayah Jakarta Selatan yang waktu itu punya enam pos: Pos Polisi Pancoran, Kantor Walikota Jakarta Selatan, Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan, Kantor PT Jalan Lingkarluar Jakarta, Pos Polisi Tanjung Barang dan Pos Polisi Kuningan.
Saban dua pekan sekali kami rotasi untuk menempati pos-pos tersebut. Dengan kekuatan enam mobil dan satu motor ambulans kami menanti panggilan.
Hallo Ambulans 118….
sore di kunciran
Dikdas-- begitu Pendidikan Dasar populer disebut--merupakan tahapan ujian untuk mendapatkan brevet paramedis. Awalnya, saya mesti mengikuti kelas pengenalan Ambulans 118 dan kegawat daruratan selama sepekan lebih di kantor Ambulans 118 yang terletak di kawasan Sunter Jakarta Pusat--kami menyebutnya BELA.
Setelah itu, Dikdas lanjutan digelar di kaki bukit Gunung Salak selama tiga hari. Ini mirip perpeloncoan sewaktu masa kuliah di Akademi Keperawatan dulu. Habis, ada acara marah-marahan segala, selain tentunya hukuman fisik. Tapi, tujuan utamanya adalah menggembleng mental dan fisik kami. Sebab nantinya, kami tidak hanya bertugas di seputaran Jakarta saja. Kami juga harus siap dikirim ke daerah lain sewaktu bencana meluluh-lantakkan wilayah tersebut.
Dan, terbukti sewaktu tsunami melumat Aceh dan gempa bumi memporak-podandakan Jogjakarta, Ambulans 118 mengirim paramedis ke lokasi bencana. Itu sebabnya, ketika Dikdas di kawasan Bogor tersebut ada acara mengevakuasi korban yang jatuh ke jurang.
Saya pun lolos dari tahapan akhir ini dan berhak menyandang gelar paramedis. Dikdas menjadi modal awal saya mengemban tugas sebagai kru Ambulans 118. Saya resmi mulai melakoni profesi ini menjelang tutup tahun 2004. Dan, bertugas di wilayah Jakarta Selatan yang waktu itu punya enam pos: Pos Polisi Pancoran, Kantor Walikota Jakarta Selatan, Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan, Kantor PT Jalan Lingkarluar Jakarta, Pos Polisi Tanjung Barang dan Pos Polisi Kuningan.
Saban dua pekan sekali kami rotasi untuk menempati pos-pos tersebut. Dengan kekuatan enam mobil dan satu motor ambulans kami menanti panggilan.
Hallo Ambulans 118….
sore di kunciran
10 Juli 2008
OM SWASTIASTU
Saya sengaja membuka blog yang baru saja tampil perdana pada 3 Juli lalu di jagad maya dengan sejumlah artikel. Tulisan di tiga harian tersohor yang bercerita tentang sosok Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dulu dan sampai sekarang popular dengan sebutan Ambulans 118. Juga sosok paramedis yang bekerja di layanan emergency tersebut.
Tujuannya, untuk memperkuat apa yang saya tulis berikutnya adalah benar adanya. Sebab, selanjutnya yang tergores dalam blog bertajuk Catatan Harian Paramedis adalah kisah pribadi saya ketika melakoni profesi sebagai Paramedis Ambulans 118 sejak Desember 2004 lalu. Ada kejadian yang bikin saya bangga, marah, terharu bahkan menangis sekalipun. Hanya saja, saya tidak tahu persis kapan tanggal pastinya lantaran semuanya hanya tersimpan dalam memori otak saja.
Berharap, siapapun yang membaca catatan harian saya ini menjadi tahu dan paham akan adanya profesi paramedis di tengah-tengah kesibukannya beraktifitas. Nama tempat dan lembaga yang menjadi bagian dalam tulisan saya, sengaja tidak disebut. Supaya tidak ada anggapan saya menyerang atau membuka aib mereka. Selamat membaca.
malam di kunciran
Tujuannya, untuk memperkuat apa yang saya tulis berikutnya adalah benar adanya. Sebab, selanjutnya yang tergores dalam blog bertajuk Catatan Harian Paramedis adalah kisah pribadi saya ketika melakoni profesi sebagai Paramedis Ambulans 118 sejak Desember 2004 lalu. Ada kejadian yang bikin saya bangga, marah, terharu bahkan menangis sekalipun. Hanya saja, saya tidak tahu persis kapan tanggal pastinya lantaran semuanya hanya tersimpan dalam memori otak saja.
Berharap, siapapun yang membaca catatan harian saya ini menjadi tahu dan paham akan adanya profesi paramedis di tengah-tengah kesibukannya beraktifitas. Nama tempat dan lembaga yang menjadi bagian dalam tulisan saya, sengaja tidak disebut. Supaya tidak ada anggapan saya menyerang atau membuka aib mereka. Selamat membaca.
malam di kunciran
08 Juli 2008
Layanan Ambulan Gratis Hanya untuk Keluarga Miskin
KEHADIRAN ambulans penting buat melayani masyarakat yang kena musibah. Sayangnya, belum banyak warga Jakarta yang tahu bahwa Ambulans Gawat Darurat (AGD) Dinas Kesehatan DKI Jakarta memberikan pelayanan cuma-cuma buat korban kecelakaan, bencana, dan warga masyarakat miskin.
Memang tak semua pengguna ambulans bisa mendapat layanan gratis 100%. Sebab, manajemen juga butuh duit buat menggaji karyawannya. Asal tahu saja, pasukan siap siaga DKI yang beranggotakan 272 orang ini terdiri dari 6 pegawai negeri sipil (PNS) dan 266 non PNS. Mereka berperan sebagai tenaga perawat, tenaga administrasi, dan lainnya.
Bagi warga yang benar-benar miskin atau korban kecelakaan dan bencana, korps AGD siap menolong tanpa pungutan biaya. “Terutama bagi orang miskin, korban kecelakaan, atau bencana, biaya operasionalnya mendapatkan subsidi Pemda DKI Jakarta, makanya gratis,” kata Direktur AGD Dinas Kesehatan DKI Jhon Marbun.
Layanan yang masuk kategori gratis itu antara lain diperuntukkan bagi korban banjir. Ambulans 118 siaga mengangkut korban tenggelam ke rumah sakit. Korps gawat darurat juga siaga menolong korban yang terpanggang api akibat kebakaran. Bagi masyarakat miskin, mereka cukup mengeluarkan kartu keterangan tak mampu.
Bagi warga yang mampu, sesuai Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2006, ongkosnya "sewa" ambulans cuma Rp 200.000 sekali jalan. Kalau keluar wilayah DKI, ada tambahan biaya sesuai jarak. Pasien mendapat semua fasilitas yang ada di ambulans, termasuk penanganan pertama oleh paramedis.
Lantaran keuangan AGD 118 seret, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkeinginan menaikkan tarif tadi menjadi Rp 400.000 -Rp 500.000. Hanya saja, usulan ini belum berlaku lantaran masih harus mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI).
Cuma, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta mengingatkan, agarAGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenakan tarif yang transparan. “ Bisa saja dibikin tarif seperti taksi yang dihitung berdasarkan jarak. Kalau tak jelas, petugas bisa bermain di jalan,” katanya.
Ongkos AGD 118 memang terbilang murah ketimbang memakai jasa ambulans rumah sakit yang tarifnya bisa meroket belipat-lipat. Untuk memakai mobilnya saja, minimal Rp 400.000. Bila ditambah penggunaan oksigen, tambah lagi minimal Rp 200.000. Terus, kalau didamping paramedis, makin gede lagi biayanya.
Agar warga terlayani dengan baik, AGD DKI juga minta agar warga turut mengawasi petugasnya. Makanya, manajemen juga membuka diri menerima kritik. “Masyarakat butuh pelayanan yang baik, kami wajib menerapkan sistem manajemen mutu. Siapa yang berbuat jelek, laporkan saja” kata Jhon.
oleh: Handiman, Hikmah Yanti
KONTAN
1 Juli 2008
Memang tak semua pengguna ambulans bisa mendapat layanan gratis 100%. Sebab, manajemen juga butuh duit buat menggaji karyawannya. Asal tahu saja, pasukan siap siaga DKI yang beranggotakan 272 orang ini terdiri dari 6 pegawai negeri sipil (PNS) dan 266 non PNS. Mereka berperan sebagai tenaga perawat, tenaga administrasi, dan lainnya.
Bagi warga yang benar-benar miskin atau korban kecelakaan dan bencana, korps AGD siap menolong tanpa pungutan biaya. “Terutama bagi orang miskin, korban kecelakaan, atau bencana, biaya operasionalnya mendapatkan subsidi Pemda DKI Jakarta, makanya gratis,” kata Direktur AGD Dinas Kesehatan DKI Jhon Marbun.
Layanan yang masuk kategori gratis itu antara lain diperuntukkan bagi korban banjir. Ambulans 118 siaga mengangkut korban tenggelam ke rumah sakit. Korps gawat darurat juga siaga menolong korban yang terpanggang api akibat kebakaran. Bagi masyarakat miskin, mereka cukup mengeluarkan kartu keterangan tak mampu.
Bagi warga yang mampu, sesuai Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2006, ongkosnya "sewa" ambulans cuma Rp 200.000 sekali jalan. Kalau keluar wilayah DKI, ada tambahan biaya sesuai jarak. Pasien mendapat semua fasilitas yang ada di ambulans, termasuk penanganan pertama oleh paramedis.
Lantaran keuangan AGD 118 seret, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkeinginan menaikkan tarif tadi menjadi Rp 400.000 -Rp 500.000. Hanya saja, usulan ini belum berlaku lantaran masih harus mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI).
Cuma, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta mengingatkan, agarAGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenakan tarif yang transparan. “ Bisa saja dibikin tarif seperti taksi yang dihitung berdasarkan jarak. Kalau tak jelas, petugas bisa bermain di jalan,” katanya.
Ongkos AGD 118 memang terbilang murah ketimbang memakai jasa ambulans rumah sakit yang tarifnya bisa meroket belipat-lipat. Untuk memakai mobilnya saja, minimal Rp 400.000. Bila ditambah penggunaan oksigen, tambah lagi minimal Rp 200.000. Terus, kalau didamping paramedis, makin gede lagi biayanya.
Agar warga terlayani dengan baik, AGD DKI juga minta agar warga turut mengawasi petugasnya. Makanya, manajemen juga membuka diri menerima kritik. “Masyarakat butuh pelayanan yang baik, kami wajib menerapkan sistem manajemen mutu. Siapa yang berbuat jelek, laporkan saja” kata Jhon.
oleh: Handiman, Hikmah Yanti
KONTAN
1 Juli 2008
Ambulans, Hadir di Detik-Detik yang Menentukan
RAUNGAN bunyi sirine ambulans selama ini memang menjadi penanda adanya kondisi darurat. Wajar bila semua mobil kudu menyingkir dari jalan untuk melempangkan laju ambulans. Soalnya, di dalam ambulans boleh jadi ada penumpang dalam kondisi kritis dan membutuhkan pertolongan segera.
Tentu, kondisi ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, entah itu akibat kecelakaan lalu lintas, kebakaran, sakit, dan sebab gawat lainnya. Kesigapan dalam memberikan pertolongan pertama seringkali menjadi kunci utama menyelamatkan nyawa korban. Makanya, tak sedikit orang yang sontak memanggil layanan ambulans gawat darurat (AGD).
Selain ambulans dari rumah sakit terdekat, korban atau keluarga bisa memanggil layanan ambulans milik Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang lebih populer dengan sebutan Ambulans 118. Kehadiran tim medis ini menjadi tumpuan tatkala ada korban yang tengah membutuhkan pertolongan pertama. Sebelum tiba di rumah sakit, di dalam ambulan, tim medis akan memberikan pertolongan pertama.
Jasa pertolongan pertama ini akan menolong korban di tempat kejadian sekaligus mengantarnya ke rumah sakit. Petugas medis ini akan menolong si korban meredakan rasa sakitnya. Jika ada orang sesak nafas, pasien akan mendapatkan pertolongan oksigen dalam ambulans. Kalau kelewat parah, petugas akan melakukan pernafasan buatan.
Kondisi ini tak bisa dilakukan di mobil pribadi lantaran keluarga korban keburu panik duluan. Makanya, bila melongok isi ambulan, peralatannya beragam. Di sana ini tersedia berbagai peralatan standar yakni infus berikut jarum, oksigen, penopang leher, serta perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Tak hanya itu, korps ambulans gawat darurat juga wajib disertai tim medis yang bertugas memberikan pertolongan pertama. Mereka umumnya mahir karena sudah ikut mendapat serangkaian pelatihan dan mengantongi sertifikat untuk menangani pasien kritis. “Tenaga medis di ambulans gawat darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta minimal lulusan diploma tiga keperawatan,” kata Direktur AGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jhon Marbun.
Tenaga medis ambulans juga sudah mengecap ilmu penanganan basic life support atau bantuan hidup pasien, basic trauma dan lainnya dari berbagai rumah sakit terkemuka seperti Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Tak heran, mereka juga cukup piawai menangani pasien gawat yang terkena serangan jantung, trauma, dan lainnya.
Untuk pasien nontrauma, seperti pasien dengan keluhan stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung, perlengkapan seperti elektrokardiografi atau EKG juga tersedia. Untuk pasien traumatik seperti korban kecelakaan, jatuh dari pohon atau tertabrak mobil, "Perlengkapan lengkap wajib tersedia," ujar Jose Rizal Jurnalis, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), organisasi sosial gawat darurat dan medis.
Saking pentingnya, korps ini berhak menjadi raja jalanan ketika menjalankan tugasnya. Hak istimewa ini dijamin lewat Undang-Undang Nomor 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 43/1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Selain ambulans, mobil yang berhak menjadi raja jalanan cuma pemadam kebakaran, kepolisian, dan tamu negara. "Masalahnya kemacetan di Jakarta sering menjadi biang keterlambatan si ambulans ke rumah sakit," ujar Rizal.
Nah supaya tak lelet, AGD 118 milik DKI juga bekerjasama dengan seluruh rumah sakit di DKI. Bahkan, ambulans ini juga nongkrong di pos pemadam kebakaran dan pos polisi supaya awak ambulans selalu siaga. Maklum, kebutuhan ambulans seringkali meroket sehingga stoknya kosong di rumah sakit. “AGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta beroperasi 24 jam penuh. Hari libur pun kami harus beroperasi,” kata Jhon.
Bila Anda membutuhkan pertolongan, prosedurnya tak ribet. Keluarga atau korban bisa menelepon alarm centre di rumah sakit terdekat. Bila ingin menggunakan layanan AGD Dinas Kesehatan DKI tinggal menelepon di 65303118. Telepon di 118 saja juga bisa, tapi kadangkala ada gangguan. Dari alarm centre ini, petugas akan menyambungkan ke petugas paling dekat ke lokasi korban. “Asal tak terjebak macet, tim bisa tiba dengan cepat datang,” kata Jhon.
Lantaran pemerintah kudu mengembang misi sosial, tarif AGD 118 murah meriah. Saking murahnya, peminat cukup membeludak. Padahal, dari 90-an mobil yang ada, cuma 30 unit saja yang bisa bergentayangan di jalanan. Selebihnya, 60 mobil lagi rusak. Makanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya tugas berat untuk mengembalikan kekuatan armadanya.
oleh: Handiman, Hikmah Yanti, A. Syalaby Ichsan
KONTAN
1 Juli 2008
Tentu, kondisi ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, entah itu akibat kecelakaan lalu lintas, kebakaran, sakit, dan sebab gawat lainnya. Kesigapan dalam memberikan pertolongan pertama seringkali menjadi kunci utama menyelamatkan nyawa korban. Makanya, tak sedikit orang yang sontak memanggil layanan ambulans gawat darurat (AGD).
Selain ambulans dari rumah sakit terdekat, korban atau keluarga bisa memanggil layanan ambulans milik Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang lebih populer dengan sebutan Ambulans 118. Kehadiran tim medis ini menjadi tumpuan tatkala ada korban yang tengah membutuhkan pertolongan pertama. Sebelum tiba di rumah sakit, di dalam ambulan, tim medis akan memberikan pertolongan pertama.
Jasa pertolongan pertama ini akan menolong korban di tempat kejadian sekaligus mengantarnya ke rumah sakit. Petugas medis ini akan menolong si korban meredakan rasa sakitnya. Jika ada orang sesak nafas, pasien akan mendapatkan pertolongan oksigen dalam ambulans. Kalau kelewat parah, petugas akan melakukan pernafasan buatan.
Kondisi ini tak bisa dilakukan di mobil pribadi lantaran keluarga korban keburu panik duluan. Makanya, bila melongok isi ambulan, peralatannya beragam. Di sana ini tersedia berbagai peralatan standar yakni infus berikut jarum, oksigen, penopang leher, serta perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Tak hanya itu, korps ambulans gawat darurat juga wajib disertai tim medis yang bertugas memberikan pertolongan pertama. Mereka umumnya mahir karena sudah ikut mendapat serangkaian pelatihan dan mengantongi sertifikat untuk menangani pasien kritis. “Tenaga medis di ambulans gawat darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta minimal lulusan diploma tiga keperawatan,” kata Direktur AGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jhon Marbun.
Tenaga medis ambulans juga sudah mengecap ilmu penanganan basic life support atau bantuan hidup pasien, basic trauma dan lainnya dari berbagai rumah sakit terkemuka seperti Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Tak heran, mereka juga cukup piawai menangani pasien gawat yang terkena serangan jantung, trauma, dan lainnya.
Untuk pasien nontrauma, seperti pasien dengan keluhan stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung, perlengkapan seperti elektrokardiografi atau EKG juga tersedia. Untuk pasien traumatik seperti korban kecelakaan, jatuh dari pohon atau tertabrak mobil, "Perlengkapan lengkap wajib tersedia," ujar Jose Rizal Jurnalis, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), organisasi sosial gawat darurat dan medis.
Saking pentingnya, korps ini berhak menjadi raja jalanan ketika menjalankan tugasnya. Hak istimewa ini dijamin lewat Undang-Undang Nomor 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 43/1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Selain ambulans, mobil yang berhak menjadi raja jalanan cuma pemadam kebakaran, kepolisian, dan tamu negara. "Masalahnya kemacetan di Jakarta sering menjadi biang keterlambatan si ambulans ke rumah sakit," ujar Rizal.
Nah supaya tak lelet, AGD 118 milik DKI juga bekerjasama dengan seluruh rumah sakit di DKI. Bahkan, ambulans ini juga nongkrong di pos pemadam kebakaran dan pos polisi supaya awak ambulans selalu siaga. Maklum, kebutuhan ambulans seringkali meroket sehingga stoknya kosong di rumah sakit. “AGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta beroperasi 24 jam penuh. Hari libur pun kami harus beroperasi,” kata Jhon.
Bila Anda membutuhkan pertolongan, prosedurnya tak ribet. Keluarga atau korban bisa menelepon alarm centre di rumah sakit terdekat. Bila ingin menggunakan layanan AGD Dinas Kesehatan DKI tinggal menelepon di 65303118. Telepon di 118 saja juga bisa, tapi kadangkala ada gangguan. Dari alarm centre ini, petugas akan menyambungkan ke petugas paling dekat ke lokasi korban. “Asal tak terjebak macet, tim bisa tiba dengan cepat datang,” kata Jhon.
Lantaran pemerintah kudu mengembang misi sosial, tarif AGD 118 murah meriah. Saking murahnya, peminat cukup membeludak. Padahal, dari 90-an mobil yang ada, cuma 30 unit saja yang bisa bergentayangan di jalanan. Selebihnya, 60 mobil lagi rusak. Makanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya tugas berat untuk mengembalikan kekuatan armadanya.
oleh: Handiman, Hikmah Yanti, A. Syalaby Ichsan
KONTAN
1 Juli 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
