11 Juli 2008

PENDIDIKAN DASAR

Setelah melewati serangkaian tes termasuk ujian mengemudi di simulator milik Direktorat Lalu Lintas Mabes Polri, akhirnya, pada Oktober 2004 saya bergabung dengan Ambulans Gawat Darurat 118—sekarang Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Tapi, belum resmi lantaran masih ada satu ujian lagi yang mesti dilewati: Pendidikan Dasar.
Dikdas-- begitu Pendidikan Dasar populer disebut--merupakan tahapan ujian untuk mendapatkan brevet paramedis. Awalnya, saya mesti mengikuti kelas pengenalan Ambulans 118 dan kegawat daruratan selama sepekan lebih di kantor Ambulans 118 yang terletak di kawasan Sunter Jakarta Pusat--kami menyebutnya BELA.
Setelah itu, Dikdas lanjutan digelar di kaki bukit Gunung Salak selama tiga hari. Ini mirip perpeloncoan sewaktu masa kuliah di Akademi Keperawatan dulu. Habis, ada acara marah-marahan segala, selain tentunya hukuman fisik. Tapi, tujuan utamanya adalah menggembleng mental dan fisik kami. Sebab nantinya, kami tidak hanya bertugas di seputaran Jakarta saja. Kami juga harus siap dikirim ke daerah lain sewaktu bencana meluluh-lantakkan wilayah tersebut.
Dan, terbukti sewaktu tsunami melumat Aceh dan gempa bumi memporak-podandakan Jogjakarta, Ambulans 118 mengirim paramedis ke lokasi bencana. Itu sebabnya, ketika Dikdas di kawasan Bogor tersebut ada acara mengevakuasi korban yang jatuh ke jurang.
Saya pun lolos dari tahapan akhir ini dan berhak menyandang gelar paramedis. Dikdas menjadi modal awal saya mengemban tugas sebagai kru Ambulans 118. Saya resmi mulai melakoni profesi ini menjelang tutup tahun 2004. Dan, bertugas di wilayah Jakarta Selatan yang waktu itu punya enam pos: Pos Polisi Pancoran, Kantor Walikota Jakarta Selatan, Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Selatan, Kantor PT Jalan Lingkarluar Jakarta, Pos Polisi Tanjung Barang dan Pos Polisi Kuningan.
Saban dua pekan sekali kami rotasi untuk menempati pos-pos tersebut. Dengan kekuatan enam mobil dan satu motor ambulans kami menanti panggilan.

Hallo Ambulans 118….

sore di kunciran

10 Juli 2008

OM SWASTIASTU

Saya sengaja membuka blog yang baru saja tampil perdana pada 3 Juli lalu di jagad maya dengan sejumlah artikel. Tulisan di tiga harian tersohor yang bercerita tentang sosok Ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang dulu dan sampai sekarang popular dengan sebutan Ambulans 118. Juga sosok paramedis yang bekerja di layanan emergency tersebut.
Tujuannya, untuk memperkuat apa yang saya tulis berikutnya adalah benar adanya. Sebab, selanjutnya yang tergores dalam blog bertajuk Catatan Harian Paramedis adalah kisah pribadi saya ketika melakoni profesi sebagai Paramedis Ambulans 118 sejak Desember 2004 lalu. Ada kejadian yang bikin saya bangga, marah, terharu bahkan menangis sekalipun. Hanya saja, saya tidak tahu persis kapan tanggal pastinya lantaran semuanya hanya tersimpan dalam memori otak saja.

Berharap, siapapun yang membaca catatan harian saya ini menjadi tahu dan paham akan adanya profesi paramedis di tengah-tengah kesibukannya beraktifitas. Nama tempat dan lembaga yang menjadi bagian dalam tulisan saya, sengaja tidak disebut. Supaya tidak ada anggapan saya menyerang atau membuka aib mereka. Selamat membaca.

malam di kunciran

08 Juli 2008

Layanan Ambulan Gratis Hanya untuk Keluarga Miskin

KEHADIRAN ambulans penting buat melayani masyarakat yang kena musibah. Sayangnya, belum banyak warga Jakarta yang tahu bahwa Ambulans Gawat Darurat (AGD) Dinas Kesehatan DKI Jakarta memberikan pelayanan cuma-cuma buat korban kecelakaan, bencana, dan warga masyarakat miskin.
Memang tak semua pengguna ambulans bisa mendapat layanan gratis 100%. Sebab, manajemen juga butuh duit buat menggaji karyawannya. Asal tahu saja, pasukan siap siaga DKI yang beranggotakan 272 orang ini terdiri dari 6 pegawai negeri sipil (PNS) dan 266 non PNS. Mereka berperan sebagai tenaga perawat, tenaga administrasi, dan lainnya.
Bagi warga yang benar-benar miskin atau korban kecelakaan dan bencana, korps AGD siap menolong tanpa pungutan biaya. “Terutama bagi orang miskin, korban kecelakaan, atau bencana, biaya operasionalnya mendapatkan subsidi Pemda DKI Jakarta, makanya gratis,” kata Direktur AGD Dinas Kesehatan DKI Jhon Marbun.
Layanan yang masuk kategori gratis itu antara lain diperuntukkan bagi korban banjir. Ambulans 118 siaga mengangkut korban tenggelam ke rumah sakit. Korps gawat darurat juga siaga menolong korban yang terpanggang api akibat kebakaran. Bagi masyarakat miskin, mereka cukup mengeluarkan kartu keterangan tak mampu.
Bagi warga yang mampu, sesuai Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2006, ongkosnya "sewa" ambulans cuma Rp 200.000 sekali jalan. Kalau keluar wilayah DKI, ada tambahan biaya sesuai jarak. Pasien mendapat semua fasilitas yang ada di ambulans, termasuk penanganan pertama oleh paramedis.
Lantaran keuangan AGD 118 seret, Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkeinginan menaikkan tarif tadi menjadi Rp 400.000 -Rp 500.000. Hanya saja, usulan ini belum berlaku lantaran masih harus mendapatkan persetujuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (Pemprov DKI).
Cuma, Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Widjajarta mengingatkan, agarAGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenakan tarif yang transparan. “ Bisa saja dibikin tarif seperti taksi yang dihitung berdasarkan jarak. Kalau tak jelas, petugas bisa bermain di jalan,” katanya.
Ongkos AGD 118 memang terbilang murah ketimbang memakai jasa ambulans rumah sakit yang tarifnya bisa meroket belipat-lipat. Untuk memakai mobilnya saja, minimal Rp 400.000. Bila ditambah penggunaan oksigen, tambah lagi minimal Rp 200.000. Terus, kalau didamping paramedis, makin gede lagi biayanya.
Agar warga terlayani dengan baik, AGD DKI juga minta agar warga turut mengawasi petugasnya. Makanya, manajemen juga membuka diri menerima kritik. “Masyarakat butuh pelayanan yang baik, kami wajib menerapkan sistem manajemen mutu. Siapa yang berbuat jelek, laporkan saja” kata Jhon.


oleh: Handiman, Hikmah Yanti
KONTAN
1 Juli 2008

Ambulans, Hadir di Detik-Detik yang Menentukan

RAUNGAN bunyi sirine ambulans selama ini memang menjadi penanda adanya kondisi darurat. Wajar bila semua mobil kudu menyingkir dari jalan untuk melempangkan laju ambulans. Soalnya, di dalam ambulans boleh jadi ada penumpang dalam kondisi kritis dan membutuhkan pertolongan segera.
Tentu, kondisi ini bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, entah itu akibat kecelakaan lalu lintas, kebakaran, sakit, dan sebab gawat lainnya. Kesigapan dalam memberikan pertolongan pertama seringkali menjadi kunci utama menyelamatkan nyawa korban. Makanya, tak sedikit orang yang sontak memanggil layanan ambulans gawat darurat (AGD).
Selain ambulans dari rumah sakit terdekat, korban atau keluarga bisa memanggil layanan ambulans milik Dinas Kesehatan DKI Jakarta yang lebih populer dengan sebutan Ambulans 118. Kehadiran tim medis ini menjadi tumpuan tatkala ada korban yang tengah membutuhkan pertolongan pertama. Sebelum tiba di rumah sakit, di dalam ambulan, tim medis akan memberikan pertolongan pertama.
Jasa pertolongan pertama ini akan menolong korban di tempat kejadian sekaligus mengantarnya ke rumah sakit. Petugas medis ini akan menolong si korban meredakan rasa sakitnya. Jika ada orang sesak nafas, pasien akan mendapatkan pertolongan oksigen dalam ambulans. Kalau kelewat parah, petugas akan melakukan pernafasan buatan.
Kondisi ini tak bisa dilakukan di mobil pribadi lantaran keluarga korban keburu panik duluan. Makanya, bila melongok isi ambulan, peralatannya beragam. Di sana ini tersedia berbagai peralatan standar yakni infus berikut jarum, oksigen, penopang leher, serta perlengkapan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).
Tak hanya itu, korps ambulans gawat darurat juga wajib disertai tim medis yang bertugas memberikan pertolongan pertama. Mereka umumnya mahir karena sudah ikut mendapat serangkaian pelatihan dan mengantongi sertifikat untuk menangani pasien kritis. “Tenaga medis di ambulans gawat darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta minimal lulusan diploma tiga keperawatan,” kata Direktur AGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Jhon Marbun.
Tenaga medis ambulans juga sudah mengecap ilmu penanganan basic life support atau bantuan hidup pasien, basic trauma dan lainnya dari berbagai rumah sakit terkemuka seperti Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Tak heran, mereka juga cukup piawai menangani pasien gawat yang terkena serangan jantung, trauma, dan lainnya.
Untuk pasien nontrauma, seperti pasien dengan keluhan stroke, gagal ginjal, dan penyakit jantung, perlengkapan seperti elektrokardiografi atau EKG juga tersedia. Untuk pasien traumatik seperti korban kecelakaan, jatuh dari pohon atau tertabrak mobil, "Perlengkapan lengkap wajib tersedia," ujar Jose Rizal Jurnalis, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committe (MER-C), organisasi sosial gawat darurat dan medis.
Saking pentingnya, korps ini berhak menjadi raja jalanan ketika menjalankan tugasnya. Hak istimewa ini dijamin lewat Undang-Undang Nomor 14/1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Peraturan Pemerintah Nomor 43/1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan. Selain ambulans, mobil yang berhak menjadi raja jalanan cuma pemadam kebakaran, kepolisian, dan tamu negara. "Masalahnya kemacetan di Jakarta sering menjadi biang keterlambatan si ambulans ke rumah sakit," ujar Rizal.
Nah supaya tak lelet, AGD 118 milik DKI juga bekerjasama dengan seluruh rumah sakit di DKI. Bahkan, ambulans ini juga nongkrong di pos pemadam kebakaran dan pos polisi supaya awak ambulans selalu siaga. Maklum, kebutuhan ambulans seringkali meroket sehingga stoknya kosong di rumah sakit. “AGD Dinas Kesehatan DKI Jakarta beroperasi 24 jam penuh. Hari libur pun kami harus beroperasi,” kata Jhon.
Bila Anda membutuhkan pertolongan, prosedurnya tak ribet. Keluarga atau korban bisa menelepon alarm centre di rumah sakit terdekat. Bila ingin menggunakan layanan AGD Dinas Kesehatan DKI tinggal menelepon di 65303118. Telepon di 118 saja juga bisa, tapi kadangkala ada gangguan. Dari alarm centre ini, petugas akan menyambungkan ke petugas paling dekat ke lokasi korban. “Asal tak terjebak macet, tim bisa tiba dengan cepat datang,” kata Jhon.
Lantaran pemerintah kudu mengembang misi sosial, tarif AGD 118 murah meriah. Saking murahnya, peminat cukup membeludak. Padahal, dari 90-an mobil yang ada, cuma 30 unit saja yang bisa bergentayangan di jalanan. Selebihnya, 60 mobil lagi rusak. Makanya, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta punya tugas berat untuk mengembalikan kekuatan armadanya.


oleh: Handiman, Hikmah Yanti, A. Syalaby Ichsan
KONTAN
1 Juli 2008

07 Juli 2008

Mobilnya Jangan Ikut Sakit Dong!

Bagi masyarakat kelas menengah-bawah, ambulans gawat darurat dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta sangatlah membantu. Saat kepepet layanan ambulans, warga akan teringat jalur telepon 118 yang sudah dikenal. Sayangnya, tak semua pelanggan dapat ambulans yang memadai.
M Supriyadi (17), pemuda yang tinggal di Kalideres, Jakarta Barat, punya pengalaman baik. Akhir tahun 2007, bagian pergelangan kaki kirinya patah akibat terlindas truk di kawasan Jatake, Tangerang. Saat kebingungan, ada teman menyarankan agar memanggil ambulans.
Ritawati, ibu pemuda itu, segera menelepon 118 untuk meminta pertolongan ambulans. Setelah menunggu sekitar satu jam, ambulans tiba dan membawa Supriyadi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat. Pemuda ini pun memperoleh pengobatan.
Dia bersyukur karena akhirnya mendapat pertolongan dan pertolongan diberikan gratis. ”Saya diminta memberi fotokopi surat keterangan tidak mampu atau kartu keluarga miskin (gakin). Itu sangat membantu,” kata Supriyadi.
Pasangan Ana Sutiana (38) dan Sudarman (42), keluarga kelas bawah di Petojo Utara, Jakarta Barat, juga langganan ambulans. Anak perempuan pasangan ini, Vivi Nurhayati (10), menderita hidrosefalus yang menyebabkan kepalanya membesar. Penyakit yang diderita sejak usia dua bulan itu mengharuskan bocah itu kontrol bolak-balik ke rumah sakit.
Saat Vivi berusia enam tahun dan kepalanya semakin membesar, Ana tak kuat lagi berobat dengan angkot. Bayangkan saja, berat bocah yang sekarang berusia 10 tahun itu mencapai 40 kilogram. Dia pun mencoba menggunakan ambulans 118 dan ditolong.
”Saya pakai surat keterangan tak mampu, jadi mendapat layanan ambulans gratis. Kalau mau berangkat, tinggal telepon. Selesai kontrol, telepon lagi,” kata Ana.
Tak semua masyarakat memperoleh layanan baik. Sebagian dari mereka mengeluh karena ambulans yang menjemput ternyata rusak. Perjalanan menjadi menyiksa.
Contohnya keluarga Ida Thimour (57), warga Depok. Awal Januari lalu, Ida pernah meminta pertolongan ambulans gawat darurat untuk membawa ibunya, Hermina Sihombing (79), dari Rumah Sakit Tebet, Jakarta Selatan, menuju rumahnya di Depok. Untuk itu, dia dikenai biaya Rp 500.000.
Sayang, ambulans yang datang tidak punya AC dan mesinnya suka ngadat. Perjalanan dari rumah sakit ke rumah pun memakan waktu dua jam dan itu harus ditempuh dalam udara panas akibat AC mati. ”Ibu saya yang sakit osteoporosis dan saraf kejepit menjadi tambah kepayahan,” kata Ida.
Ida berharap ambulans gawat darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta mau berbenah diri. Masih banyak masyarakat yang belum punya kendaraan sendiri sehingga membutuhkan pertolongan ambulans.”Sebaiknya berilah pelayanan memadai dengan mobil bagus dan waktu yang cepat. Masak orang sakit diangkut pakai mobil yang sakit juga. Nanti tambah parah dong penyakit orang itu,” kata Ida.


oleh: Ilham Khoiri
KOMPAS
Minggu, 29 Juni 2008

Berpacu Melawan Macet

Di negara maju, waktu bagi ambulans untuk merespons panggilan darurat berkisar 4-6 menit. Di Jakarta yang lalu lintasnya kacau dan macet, ambulans paling cepat datang 30 menit setelah dipanggil. Kita hanya bisa berdoa semoga pasien bertahan hidup hingga ambulans tiba.
Kemacetan lalu lintas memang menjadi penghambat utama bagi ambulans. Semua petugas ambulans di Jakarta tahu benar masalah itu. Simak saja pengalaman mereka.
Ludy Hardiyant (27), petugas ambulans Gawat Darurat Dinas Kesehatan DKI Jakarta, pernah mendapat tugas menjemput pasien yang kritis di Duren Sawit, Jakarta Timur. Ketika itu, dia sedang berjaga di Kampung Rambutan yang waktu tempuhnya dari Duren Sawit sekitar 30 menit dalam keadaan normal.
”Saya langsung tancap gas. Tetapi, ambulans saya terjebak di tengah kemacetan,” kata dia. Akibatnya, Ludy baru tiba di tempat pasien satu jam kemudian. Pasien langsung diangkut ke rumah sakit, tetapi meninggal sebelum mendapat perawatan.
Japistar (38), petugas ambulans lain, bahkan gagal mengevakuasi pasien yang mengalami sesak napas tahun 1999. Ketika itu dia ditugaskan menjemput pasien di Cengkareng, Tangerang. Dalam perjalanan menuju rumah pasien, ambulans yang dia kendarai dihadang kemacetan parah. Ambulans yang berangkat pukul 10.00 baru tiba di rumah pasien satu jam kemudian.
Ketika ambulans tiba, nyawa pasien telah melayang. Dokter yang memeriksa menyatakan, pasien meninggal sekitar 10 menit sebelum ambulans datang. ”Kami kecewa. Kalau saja lalu lintas lancar, setidaknya kami bisa memberi pertolongan pertama atau membawa pasien ke rumah sakit biar cepat ditangani dokter,” ujar Japistar.
Untuk menyiasati kemacetan, Ambulans Gawat Darurat 118 pernah mengerahkan tim ambulans sepeda motor yang bisa menembus kemacetan. Prosedurnya, paramedis akan meluncur dengan sepeda motor lebih dulu ke rumah pasien untuk memberi pertolongan pertama. Setelah itu, mobil ambulans menyusul untuk mengevakuasi pasien.
”Dua tahun lalu, ada 10 ambulans sepeda motor yang bersiaga di lima wilayah DKI. Sekarang sepeda motornya enggak tahu ke mana,” kata Aryono Djuned, Ketua Yayasan Ambulan Gawat Darurat Terpadu 118.
Yang lain ke pinggir
Secara normatif, ambulans mendapat prioritas utama dalam menggunakan jalan. Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan menyebutkan, ”Pemakai jalan wajib mendahulukan mobil pemadam kebakaran dan ambulans yang sedang bertugas.”
Prioritas selanjutnya adalah kendaraan untuk menolong korban kecelakaan lalu lintas, kendaraan kepala negara atau tamu negara, iring-iringan mobil pengantar jenazah, dan kendaraan yang mengangkut barang- barang khusus.
Di Indonesia, aturan normatif sering tidak nyambung dengan kondisi di lapangan. Entah tidak paham aturan atau terlalu egois, banyak pengendara tidak mau memberi jalan untuk ambulans meski petugasnya menyalakan lampu warna merah yang berputar-putar (rotator) menyilaukan dan membunyikan sirene.
Octaria (28) pernah dibuat jengkel oleh pengemudi egois. ”Saya pernah dipepet dua truk kontainer ketika membawa pasien. Untung saya tidak panik. Kalau saya panik, keluarga pasien ikut panik. Wah, bisa gawat,” ujar petugas ambulans yang beroperasi di wilayah Jakarta Utara itu.
Jalan-jalan di wilayah itu memang sering disesaki kendaraan berat, seperti truk, kontainer, dan trailer. Octaria harus cekatan dalam mengemudikan ambulans.
Pengalaman lebih buruk dialami keluarga Janu Utomo (76), pengguna layanan ambulans gawat darurat di Pulo Gadung, Jakarta Timur. Teguh Ostentrik, adik ipar Janu, menceritakan, Janu mendadak sakit pada 1 Juni lalu. Keluarga Janu segera memanggil ambulans gawat darurat untuk membawa Janu ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) di Jakarta Selatan.
Di dalam ambulans, Janu ditemani istrinya, Retno Indarti (65), dan anaknya, Krisanti Indriani. Ambulans tersebut dikemudikan Januari Purwoko ditemani perawat Risa Citra Dewi. Saat mobil melintas di Jalan Sisingamangaraja, dekat Masjid Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sekitar pukul 02.45, ambulans ditabrak Honda Jazz. Bagian samping kanan belakang ambulans hancur, sedangkan bagian depan mobil Honda Jazz rusak.
”Kakak ipar saya terlempar sampai 30 meter. Dia akhirnya meninggal di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSPP akibat kepala bagian belakang pecah. Retno luka parah dan masih kritis sampai sekarang,” kata Teguh ketika dihubungi Kamis (26/6). Penumpang ambulans lainnya juga mengalami luka-luka. Januari memar, bibir Krisanti sobek, dan wajah perawat Risa luka dan memar.
Belakangan diketahui, mobil Honda Jazz itu dikemudikan Putri Rizki Indriasari. Di dalam mobil itu juga ada Nuri, salah seorang personel band Shaden. Karena Nuri seorang selebriti, kejadian itu pun mendapat sorotan media infotainment. Dalam konferensi pers, Nuri malah menyalahkan ambulans. Katanya, ambulans yang menabrak Honda Jazz.
Teguh benar-benar dongkol mendengar tudingan itu. ”Kami tidak terima dengan konferensi pers yang digelar Nuri. Yang benar, kami ditabrak bukan menabrak,” ujarnya. Bagaimanapun, kata dia, ambulans yang membawa orang sakit harus diprioritaskan ketimbang kendaraan pribadi dan umum.
Selain kemacetan dan sikap egois pengemudi kendaraan, petugas ambulans kadang terhambat karena petugas rumah sakit, bahkan polisi, tak mengerti prosedur kerja ambulans. Ludy menceritakan, ketika dia tergopoh- gopoh untuk mengevakuasi korban ledakan bom di Kedubes Australia tahun 2004, ambulansnya malah dicegat polisi. Setelah berdebat, akhirnya ambulansnya diperbolehkan masuk.
Masalah tidak berhenti di sini. Ketika Ludy mengangkut korban selamat ke rumah sakit, petugas rumah sakit justru mengarahkan ambulans itu ke kamar mayat, bukan ke IGD.


oleh: Budi Suwarna/Lusiana Indriasari/Ilham Khoiri
KOMPAS
Minggu, 29 Juni 2008

Nasib Karyawan Ambulans

Kehidupan para personel ambulans sama daruratnya dengan pelayanan yang mereka berikan. Selain belum menerima gaji selama enam bulan, mereka juga tidak mendapat tunjangan apa pun, termasuk tunjangan kesehatan.
Ada yang begitu miskinnya sehingga tidak sanggup membayar layanan kesehatan ketika sakit. Simaklah cerita Nita (28), paramedis di Ambulans Gawat Darurat (AGD) 118. Ia terpaksa mengaku sebagai gelandangan demi mendapat pengobatan gratis.
Suatu ketika, suami Nita sakit. Karena mereka tidak memiliki tunjangan kesehatan, Nita berharap sakit suaminya dapat dibiayai pemerintah melalui Jaminan Pemeliharaan Kesehatan bagi Keluarga Miskin (JPK-Gakin).
Program milik Dinas Kesehatan DKI Jakarta ini mensyaratkan, penerima JPK-Gakin harus memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Jakarta. Padahal, Nita dan suaminya berdomisili di Depok, Jawa Barat. ” Saya minta surat keterangan miskin ke RT/RW di Jakarta mengaku sebagai gelandangan,” tutur Nita.
Nasib Japistar (38) setali tiga uang. Karena gajinya belum dibayar, dia terpaksa mengandalkan gaji Raida, istrinya, yang bekerja sebagai suster di sebuah rumah sakit di Bekasi.
Japistar mengaku, penghasilannya sebulan sekitar Rp 2,179 juta. Uang itu tidak cukup untuk menghidupi istri dan tiga anaknya. ”Kami selalu berkeringat dingin, pusing (karena gaji tidak cukup),” kata laki-laki yang telah bekerja sebagai petugas AGD 118 sejak tahun 1988.
Saking hematnya, Japistar sampai tidak bisa membeli baju. ”Baju seragam putih yang saya pakai ini hanya satu. Kalau pulang, langsung dicuci agar bisa dipakai besoknya,” tambah dia.
Kalau Japistar masih punya pemasukan, lain lagi dengan Octaria (28). Kebetulan Octaria dan suaminya sama-sama bekerja di AGD 118. Karena dana pemerintah belum turun untuk pembayaran honor mereka, Octaria dan suaminya sama sekali tidak punya uang untuk menghidupi keluarga.
Sekarang Octaria sedang hamil. Untuk berhemat, ia mengurangi jatah minum susu yang biasanya tiga kali sehari menjadi satu kali sehari. Karena tidak ada penghasilan, ekonomi keluarga Octaria pun menjadi tanggungan orangtua.
Nasib Arsyad (50), karyawan bagian mekanik AGD 118, mungkin lebih apes dibandingkan dengan teman-temannya. Pasalnya, istrinya hanya ibu rumah tangga biasa yang tidak punya penghasilan. Untuk membiayai hidup istri dan tiga anaknya, Arsyad terpaksa berutang kepada tetangga, teman, dan orangtua. Kadang dia juga mencari tambahan dengan bekerja sambilan di bengkel.Bagaimana bisa berkonsentrasi menyelamatkan orang bila keluarga sendiri saja tidak mampu diselamatkan.


oleh: Budi Suwarna/Lusiana Indriasari/Ilham Khoiri
KOMPAS
Minggu, 29 Juni 2008